Mantan dosen Universitas Allamah Thabathabai, Sayyid Yahya Yatsribi dalam wawancaranya dengan wartawan IQNA, dalam rangka memperingati wafatnya Nabi saw mengatakan, “Setiap nabi menampakkan suatu mukjizat untuk memberikan petunjuk untuk umatnya, seperti petunjuk melalui tongkat Nabi Musa as dan petunjuk penyembuhan melalui Isa as dan lain-lain.”
Ia menambahkan, para nabi selain Nabi Muhammad saw diutus pada masa tertentu, mukjizat mereka pun terbatas untuk masa tertentu. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw diutus di sepanjang kehidupan manusia, serta mukjizatnya untuk selamanya dan mukjizat tersebut terpilih untuk menyelesaikan problema masyarakat yang lebih sensitif dari masa sebelumnya.
Yatsribi dalam ceramahnya menambahkan bahwa masyarakat memiliki suatu persoalan khusus di setiap zaman. Mukjizat Nabi saw berkenaan tentang persoalan khusus tersebut., misalnya pada zaman Nabi Isa as, menitik beratkan pada persoalan pengobatan dan kedokteran, beliau juga menyembuhkan orang yang buta dan menghidupkan orang yang mat, hingga ilmu kedokteran biasa tidak dapat berbuat demikian. Di zaman Nabi Musa as, menitik beratkan tentang hal-hal yang berkenaan tentang sihir. Dengan perantara tongkat Nabi Musa as mengalahkan semua penyihir.
Seorang Mufassir al-Quran ini menegaskan bahwa dikarenakan Nabi saw diutus untuk mencakup semua masa dan setiap masa memiliki suatu mukjizat tertentu, maka mukjizat Nabi berkaitan untuk semua zaman, seperti al-Quran dari sisi kandungan dan ajaran-ajarannya, begitu pula pada kepribadian Nabi saw, semua itu adalah mukjizat untuk sepanjang masa.
Ia menandaskan, problema hak asasi manusia adalah problema kekinian. Tanpa diragukan bahwa kita kaum muslimin hendaklah harus lebih memahami persoalan ini, hingga dapat direalisasikan dalam kehidupan kita. Karena itu, apabila kita meneliti sejarah kehidupan beliau saw, Rasulullah saw telah menitik beratkan tentang persoalan ini dengan menjaga ikatan persaudaraan dan hak asasi manusia. Adapun ajaran-ajaran al-Quran dan Nabi saw sebagai mukjzat kemanusiaan.
Penulis buku ‘Tafsir Ruz’ pada akhir pembicaraannya menegaskan bahwa di dalam al-Quran al-Karim, Rasulullah saw menyatakan bahwa keimanan seorang hamba ditentukan oleh diri mereka sendiri, yakni merekalah yang mengikrarkan keimanan itu. Al-Quran menjelaskan bahwa Allah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan merdeka dan hendaklah manusia sendiri memilih jalan hidupnya. Seseorang tidak boleh memaksakan keimaman orang lain. Karena itu, tugas dari para nabilah hanyalah memperingatkan dan menyampaikan pesan dari Allah Swt. Para nabi sebelum menyampaikan dakwahnya, terlebih dahulu dapat memahami problema umatnya, di saat itu kebebasan manusia merupakan benang merah yang tidak ada campur tangan dari Allah Swt.
740693